Wednesday, February 4, 2015

Kompetensi Abad 21

KERANGKA KOMPETENSI ABAD 21

Pada abad-21 ini pembelajaran aktif sudah selayaknya beralih ke pembelajaran aktif yang sesuai dengan kompetensi yang harus ditingkatkan pada siswa di abad-21. Sudah bukan zamannya lagi membimbing dan mengarahkan siswa dengan langkah-langkah pembelajaran atau pertanyaan-pertanyaan prosedural. Di abad-21 ini siswa harus belajar berinisiatif dan mengarahkan dirinya sendiri. Berikut ini kegiatan-kegiatan pembelajaran aktif dan fungsinya dalam meningkatkan kompetensi siswa di abad-21. 

Menurut Partnership for 21st Century Skills (2013) kompetensi yang perlu ditingkatkan pada siswa di abad-21 adalah sebagai berikut.
  1. Materi inti, yang antara lain adalah kesadaran global, literasi kesehatan, dan literasi lingkungan. Catatan: Karena materi ini merupakan bahan pelajaran yang terkait langsung dengan konsep-konsep yang terdapat pada kompetensi dasar. Peningkatan kompetensi ini tidak dibahas dalam kegiatan pembelajaran aktif berikut ini.
  2. Keterampilan Belajar dan Berinovasi, yaitu keterampilan berkreasi dan berinovasi, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, berkomunikasi dan berkolaborasi.
  3. Keterampilan teknologi informasi dan media, yaitu literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT.
  4. Keterampilan hidup dan karir, yaitu kemampuan untuk bersikap fleksibel dan beradaptasi, inisiatif dan mengarahkan diri sendiri, keterampilan sosial dan antar budaya, akuntabel dan produktif, kepemimpinan dan tanggung jawab.
Oleh karena itu, dibuatlah sebuah kerangka kompetensi abad ke-21 yang sekiranya dapat membantu manusia mengetahui tipe kompetensi seperti apa yang perlu dimiliki agar dapat membantu mereka menyelesaikan problem-problem yang ada di kehidupannya untuk masa depan yang lebih baik. kerangka kompetensi tersebut adalah:
Masyarakat dunia telah berada pada tahun ke-11 di  abad ke-21. Apa yang diramalkan dalam satu dasawarsa ke belakang kini terjadi, revolusi teknologi berkembang dramatis. Kita sekarang hidup di sebuah masyarakat-media semakin beragam, mengglobal, dan kompleks.

Informasi makin deras mengalir. Para siswa memiliki kecepatan yang lebih tinggi daripada guru-gurunya dalam menyerap informasi apa pun. Entahlah apa yang akan terjadi jika murid-murid lebih menguasai bahasa teknologi daripada gurunya. Apa yang akan terjadi 5 tahun mendatang, 10 tahun, apalagi 20 tahun. Sekolah mempersiapkan siswa dengan cara-cara yang ketinggalan di belakang.

Sekolah memperkenalkan siswa  pada teknologi terbaru, kolaborasi dalam konteks global yang menyediakan peluang mengembangkan wawasan tentang kemungkinan yang sangat luas menemukan hal yang baru,  energi baru, kemajuan medis, pemulihan kerusakan lingkungan, pengembangan komunikasi, hingga eksplorasi ke ruang angkasa dan ke kedalaman lautan. Untuk mereka ada banyak kemungkinan bahkan tak terbatas.

Kemungkinan yang sangat luas hanya dapat diraih jika sekolah mampu mempersiapkan siswa dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang terus disempurnakan melalui kegiatan belajar secara berkelanjutan sehingga siswa  memperoleh pengetahuan dan keterampilan terbaiknya.

Keterampilan abad ke-21 yang siswa asah harus bersifat  interdisipliner, terintegrasi, berbasis proyek, hingga mengaplikasikan keterampilan terbaik untuk bertahan hidup. Tony Wagner dalam bukunya Global Achievement Gap menyatakan bahwa ada 7 keterampilan utama yang wajib siswa kuasai agar bertahan hidup dan beradaptasi dengan perubahan, yaitu:

  1. Terampil berpikir kritis dan memecahkan masalah.
  2. Kolaborasi berbasis jaringan dan memimpin dengan pengaruh.
  3. Mampu mengubah arah dan bergerak secara cepat dan efektif dan beradaptasi.
  4. Memiliki daya inisiatif dan berkewirausahaan
  5. Bicara dan memiliki kemampuan menulis secara efektif.
  6. Mengakses dan menganalisis informasi.
  7. Bersikap selalu ingin tahu dan berimajinasi
Untuk mengembangkan sejumlah keterampilan itu, maka sekolah perlu mengantisipasi berbagai langkah perubahan yang meliputi komponen utama yaitu penyempurnaan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengembangan siswa, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru, dan melaksanakan pembelajaran yang terkontrol agar sekolah dapat memastikan bahwa target mutu yang diharapkannya terwujud

Langkah Cerdas Menjadi Guru Berprestasi

Seorang guru sejati berprestasi adalah harapan dunia pendidikan dan pilar tegaknya kemajuan bangsa.Guru sejati berprestasi adalah yang mampu mengabdi dengan penuh ketulusan, yang rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mentransfer ilmunya kepada peserta didik. Guru sejati berprestasi adalah yang mampu melihat, mendengar dan merasakan setiap kesulitan yang dihadapi anak didik. Ia tidak hanya mampu mengajar tetapi juga mampu mendidik dan memberi kasih sayang kepada anak didik. Dan guru sejati berprestasi adalah yang mampu menjunjung tinggi profesionalisme dan kualitas pengajarannya sebagai pendidik.


LANGKAH CERDAS BERPRESTASI

1. Luruskan niat, mantapkan tekad, wujudkan mimpi

“Pengabdian” merupakan satu makna dasar yang menjadi landasan bagi seorang guru untuk tak pernah berhenti mengajar dan membagikan ilmu kepada anak didiknya. Makna dari sebuah pengabdian adalah pijakan awal yang sangat penting bagi para guru dalam mendidik anak murid mereka, agar setiap guru mempunyai atau memiliki arah pijakan yang kuat, terarah, berdaya guna, dan mampu membantu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita anak didiknya.

Niat yang lurus menjadi seorang guru aadalah kunci utama yang akan menentukan jalan keberhasilan. Jika seorang guru secara tulus mendasarkan tujuannya mendidik demi kepentingan anak didiknya, maka ia berada pada jalan yang tepat. 

Guru sejati adalah yang mampu mengabdi dengan penuh ketulusan pada pendidikan anak didik. Guru sejati adalah guru yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam mentransfer ilmunya, serta mampu melihat, mendengar dan merasakan setiap kesulitan yang dihadapi anak didik.

Luruskan niat, mantapkan tekad, dan laksanakan tugas serta kewajiban demi mewujudkan mimpi para laskar pelangi. Guru adalah kebanggaan kita semua.

2. Keberhasilan tidak terletak pada jabatan dan uang, tetapi pada orang yang mengerjakannya

Karakter dan sikap mental seseorang lebih menentukan keberhasilan ketimbang jabatan uangnya.Karena jabatan dan uang adalah bersifat kebendaan duniawi yang begitu fana dan rapuh, yang sewaktu-waktu bisa hilang atau rusak. Seseorang yang memiliki karakter dan sikap mental yang baik dan kuat terwujud dari sifat, sikap dan perilakunya yang dimasukkan dalam kategori positif, yaitu jujur, percaya diri dan dapat dipercaya, rendah diri, tangguh, ulet, optimis pantang menyerah, disiplin dan sebagainya. 

Guru adalah cermin keteladanan bagi anak didiknya, maka pantulkan segala bentuk prestasi, kelebihan, kemampuan, kecerdasan, kebijaksanaan, kasih sayang dan segala bentuk pemahaman kepada anak didik anda dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati.

3. Pola pikir anda adalah cermin kualitas diri anda

Salah satu sifat dasar manusia adalah rasa untuk ingin tahu, yaitu keingintahuan terhadap sesuatu hal yang bisa memberikan pemahaman, bisa memberi kebahagiaan, kesenangan, keuntungan, keselamatan dan pemahaman lainnya.Pemahaman ini dimaksudkan untuk menekankan bahwa seorang guru harus belajar untuk mandiri dalam berfikir, menimbang, menarik kesimpulan, dan tidak terlalu banyak bergantung pada orang lain jika ingin menemukan makna sesungguhnya dari pengabdian seorang pendidik. 

Setiap individu harus belajar berfikir sendiri. Semakin dini seseorang belajar mengembangkan pola pikirnya akan semakin bagus. Barang siapa suka berfikir, melatih mengembangkan pola pikirnya, maka dirinya akan menemukan tingkat keberhasilan lebih cepat. 

Dalam proses pengembangan diri, seorang guru tidak bisa hanya sekedar belajar teori-teori dalam ruangan yang terbatas, melainkan ia haruslah berfikir tentang hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.Yang terpenting adalah bagaimana seorang guru harus berfikir secara mandiri, kreatif, inovatif, dan berkualitas.

4. Memahami orang lain

Bagi seorang guru, salah satu hal pertama yang perlu dipelajari tentang orang lain, dalam hal ini anak didiknya adalah bahwa mereka pada dasarnya sama seperti kita. Ada diantara anak didik yang kurang berani dalam melakukan sesuatu dari pada orang lain, ada yang tidak kenal takut, ada yang ramah, ada yang menaruh rasa tanggungjawab, ada yang pandai dan cerdas, bahkan ada yang lambat dalam belajar.

Ada baiknya kalau seorang guru sejak dini mau belajar menempatkan diri dalam keadaan sebagaimana yang terjadi pada anak didiknya, lalu menerima dia sebagaimana dia adanya dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Marilah kita memberikan dan mengabdikan diri kita kepada orang lain dengan membukakan hati kita lebar-lebar untuk orang lain dan anak didik kita.

5. Lakukan hal-hal yang produktif secara efektif dan efisien

Seorang guru harus mampu melaksanakan dan mengatur waktunya dengan baik.Ia harus mampu mengatur pekerjaannya dengan baik; mana pekerjaan yang perlu ditangani sendiri dan mana yang perlu ditangani dan didelegasikan kepada orang lain.Ia harus bisa menghargai apa yang perlu dihargai menurut skala prioritas.Seorang guru, sesibuk apapun harus selalu mengambil keputusan untuk menciptakan suatu rencana-rencana.Seorang guru harus selalu memulai hari-harinya dengan sesuatu dari hasil ciptaannya atau kemampuannya sendiri. Seorang guru harus mampu melakukan sesuatu secara efektif, efisien dan produktif, misalnya dalam hal belajar mengajar, mengembangkan kecerdasan anak didiknya dan mengembangkan profesionalitas sebagai guru atau hal-hal lainnya.

6. Komunikator yang baik adalah pemimpin yang hebat

Seorang bos berkata “lakukan!”
Tapi seorang pemimpin berkata
“Mari kit lakukan!”

Guru sejati adalah sosok seorang pemimpin yang menjadi teladan bagi anak didiknya. Guru sejati bukanlah seorang bos yang suka melarang dan memerintah. Guru haruslah menjadi seorang pemimpin yang mengarahkan peserta didiknya kearah perubahan yang positif dan menghasilkan para cendikiawan bangsa. Guru harus tampil sebagai pemimpin yang hebat, yang dalam artian mampu mengajak peserta didiknya melakukan segala sesuatu yang berdasarkan logika. Sebagai orang tua dilingkungan sekolah, seorang guru adalah layaknya orang tua bagi anak-anak di rumah, dengan tetap memperhatikan batas-batas norma dan kewajaran seorang guru.

Tips Menjadi Guru Berprestasi ala Omjay

Cerita Ini diperoleh dari Blognya Om Jay, Silahkan Disimak

Kriiiiing!… sedang asyik menulis raport, ponsel saya berdering. saya pencet tombol telepon berwarna hijau di ponsel. Kemudian terdengarlah suara pak Dedi Dwitagama. “lagi apa omjay? bisa gantiin ane presentasi di gedung NU kramat raya?” begitulah pak Dedi langsung to the point menyuruh saya berangkat saat itu juga. Saya kemudian langsung menjawab, “bisa!”. Dengan segera saya meluncur ke kantor PBNU yang ada di jl. Kramat Raya Jakarta Pusat.
twc3
Singkat cerita, sampailah saya di gedung PBNU. Ada foto Gusdur terlihat di dinding gedung. Saya langsung naik ke lantai 8 gedung. Lalu di lantai itu saya bertemu dengan banyak pimpinan sekolah swasta di Jakarta pusat, dan saya temui panitia kegiatan.

“Mohon maaf pak saya diminta menggantikan pak dedi memberikan presentasi. beliau berhalangan hadir,” begitulah kata saya singkat. Salah seorang panitia lalu menjawab, “iya pak tadi pak Dedi sudah telpon dan bapak yang diminta menggantikan, tapi bapak makan siang dulu ya!”. Ibu panitia itu menyodorkan kepada saya nasi kotak yang berisi nasi dan lauk pauk yang lezat. Saya sempat perang batin dalam diri, “makan dulu gak ya?”.

Hmmm, rasanya tak enak kalau saya makan dulu sementara materi yang akan disampaikan saya belum tahu. Lalu saya tanya panitia materi apa yang harus saya sampaikan.

“Bapak harus menyampaikan materi menjadi guru berprestasi. Waktu bapak satu setengah jam”. begitulah pak Haji Iskandar yang menjadi panitia mengatakan.

Ehem, dalam hati saya bergumam, “bego banget ya gue. kasih materi tanpa persiapan. Pepatah mengatakan, “mereka yang berdiri di mimbar tanpa persiapan, akan turun tanpa penghormatan”. Aduh!, tak hentinya saya menyalahkan diri sendiri. Kenapa begitu mudah berkata bisa sementara materi yang akan disampaikan belum siap. Hehehe, ini pelajaran yang sangat berharga. Saya pun langsung mengutak ngatik materi yang sudah pernah saya sampaikan di laptop. Alhamdulillah ketemu. Setahun lalu saya pernah menyampaikan ini di tempat lain. Lantas saya pun tersenyum dan siap memberikan presentasi.

Seorang teman berkomentar di facebook. Menjadi guru berprestasi, kuasai 4 kompetensi guru dan memiliki IPK (Ilmu Pendekatan) yang bagus terhadap pimpinan dan dinas. Keempat kompetensi yang harus dikuasai guru untuk meningkatkan kualitasnya tersebut adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Guru harus sungguh-sungguh dan baik dalam menguasai 4 kompetensi tersebut agar tujuan pendidikan bisa tercapai.

Untuk menjadi guru berprestasi bukanlah perkara mudah. banyak tantangan dan hambatan terbentang. Hambatan terbesar ada dalam diri. Guru harus mampu mengalahkan dirinya sendiri dulu baru kemudian mengalahkan orang lain. Ada pepatah mengatakan, “menaklukan ribuan orang belum tentu disebut sebagai pemenang. tapi mampu menaklukan diri sendiri, itulah yang disebut penakluk gemilang”.

Acara motivasi untuk para kepala sekolah swasta akan dimulai. Salah seorang panitia mempersilahkan saya memasuki ruangan. Saya melihat sekumpulan org yang berwibawa dan berpakaian perlente pula. Hmmm maklumlah mereka para pimpinan sekolah di sekolahnya masing-masing. Ada beberapa orang saya kenal dan telah menjadi kepala sekolah di sekolah swasta papan atas. Waduh, semkin ciut nyali saya menghadapinya. Bukanlah mereka jauh beprestasi daripada saya?

Seorang teman facebook bernama D’alia Halmahera berkomentar, “Seru omjay, bertemu dengan para pimpinan sekolah atau kepala sekolah dalam suatu acara. Dimana kita sebagai penyaji materinya, berarti ada nilai lebih buat omjay. Saya juga pernah memberikan pelatihan, dimana pesertanya adalah para kepala sekolah se-kab Meulaboh Aceh Barat (okt 2009). Padahal yang jadi pembicaranya hanya seorang guru honor biasa. Dag dig dug der jadinya. Hehehe.

Wow, inilah hari yang begitu mendebarkan. Kini saya harus berdiri melakukan presentasi di depan para guru yang berprestasi. Betapa mereka sudah menjadi guru berprestasi. Hal itu terbukti mereka sudah menjadi pimpinan di sekolahnya masing-masing. Ehem, kalau mereka tidak berprestasi mana mungkin bisa diangkat menjadi kepala sekolah? Begitulah saya bertanya dalam hati kepada diri sendiri

Saya yakin menjadi guru berprestasi tentu menjadi idaman seorang guru. bukan hanya berprestasi tetapi juga menginspirasi. Dengan begitu para guru dapat saling memotivasi untuk menjadi guru tangguh berhati cahaya. Seorang guru yang selalu memberikan pelayanan terbaik kepada murid-muridnya. Seorang guru yang memiliki kekuatan super untuk mengantarkan peserta didiknya menjadi seorang pemimpin. Minimal murid-muridnya bisa memimpin dirinya sendiri.

Pak Urip teman saya di Kalteng menambahkan, “Cara sederhana berprestasi adalah guru memprestasikan siswa bukan memprestasikan diri sendiri”. Lalu Ibu D’alia Halmahera bertanya kepada saya, “Kenapa ya Omjay, kalau ada lomba guru berprestasi dari dinas, syaratnya harus PNS? Apakah guru2 GTT ga ada yang mampu berprestasi?” Sebuah pertanyaan yang belum bisa saya jawab, karena saya bukan panitianya, hehehe.

Pak Bahar teman di Sukabumi menuliskan di facebook, “Guru berprestasi itu bukan dirinya saja yang berprestasi, tapi bisa membuat rekannya berprestasi, siswanya berperstasi anaknya berprestasi, masyarakat dan lingkungannya berprestasi. Itulah hakekat guru berprestasi, bukan sekedar uang dan ketenaran semata”.
Pak Dris kawan di bali juga menulis di facebook, “Cukup ikut lomba, saat presentasi dengarkan kata dewan juri, jangan pernah menyanggah atau membantah. Jadilah juara guru prestasi, hehehehe… Pengalaman pribadi Omjay. Juknis nya PTK dan Media pembelajaran harus Inovatif. Saya pakek Metode Getok Tular, yang saya yakin belum ada yg pakek. Eeeee taunya yg juara 1 dan 2 di Bali kemren yang pakek metode udah basi, dan hanya manggut2 saat disalahkan juri, tanpa pembelaan sama sekali terhadap karya tulisnya. Jadi deh dris terdepak diurutan ke 3…. Hehehe”.

Satu hal yang harus dipahami. Menjadi guru berprestasi bukan hanya ikut kompetisi atau lomba kemudian menang. Tetapi guru tersebut juga harus mampu mengantarkan peserta didiknya mencapai prestasi yang gemilang. Itulah inti presentasi yang saya bawakan. Ada yang mau menambahkan?

Salam Blogger Persahabatan
Omjay